Quotes About Struggle
Sia-sianya dunia ini kalau untuk meningkatkan satu orang yang lain mesti diinjak.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Perang, kekuasaan, kekayaan, seperti unggun api dalam kegelapan dan orang berterbangan untuk mati tumpas di dalamnya.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Bahwa orang yang punya itu banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya. Dan mereka tak merasai ini.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Dan dengan langkah berat pergilah aku meninggalkan rumahsakit itu; rumah tempat orang yang tak bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya sendiri.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Rupanya di bumi jajahan ini setiap orang hidup atas dasar hancur menghancurkan.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Ibuku tinggal di sarang. Ini bukan rumah. Di negeri matahari ini, bahkan sinar matahari dia tidak kebagian!
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Di sana, di kampung nelayan tetesan deras keringat membuat orang tak sempat membuat kehormatan, bahkan tak sempat mendapatkan nasi dalam hidupnya terkecuali jagung tumbuk yang kuning. Betapa mahalnya kehormatan dan nasi.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Aku juga punya tahan air. Jelek-jelek tanah airku sendiri, bumi dan manusia yang menghidupi aku selama ini. Cuma binatang ikut Belanda!
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Kalau mati, dengan berani. Kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya bangsa asing bisa jajah kita.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Teror merupakan sistem untuk menundukan rakyat, sedang kerakusan berlebihan menjadi tujuan dari pendudukan itu.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Kudekati ranjang ayahku, kuraba kakinya yang kering. Hatiku tersayat. Bukankah kaki itu dulu seperti kakiku juga dan pernah mengembara ke mana-mana? Dan kini kaki itu terkapar di atas kasur ranjang rumahsakit. Bukan kemauannya. Ya, bukan kemauannya. Rupa-rupanya manusia ini tak selamanya bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya. Dan kelak begitu juga halnya dengan kakiku.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Aku harus tabah, kubisikkan pada diri sendiri. Takkan ada yang menolong kau! Semua setan dan iblis sudah mengepung aku.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Ia menyimpan dendam. Dendam yang terus menyala sebelum pembunuhan menutupnya. Dan dendam itu bisa menjalar jadi perang kampung.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Kalau kita menang perang, semua kita dapat rumah baik. Tapi sekarang negara lebih butuh uang dari pada kita semua.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Mereka bertengkar ramai dalam bahasa yang bagiku sama asingnya dengan bahasa nasib manusia.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barang kali buta huruf pula! God, God! Menghadap bupati sama dengan bersiap menampung penghinaan tanpa boleh membela diri. Tak pernah aku memaksa orang lai berbuat semacam itu terhadapku. Mengapa harus kulakukan untuk orang lain? Sambar gledek!
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Secacat itu tapi masih berjuang! Mestinya perjuanganku lebih dari dia. Aku tidak cacat. Lebih, mesti! Lebih!
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Tiap pemuda Indonesia bisa melakukan segala perjuangan dan pekerjaan kalau dia mau - Pak Komandan
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Alam dan manusia telah membikinnya tidak brdaya dalam umur yang baru setengah abad. Sejak meninggalkan kampung halaman dan keluarga ia hanya mengenal penderitaan, tindasan, dan aniaya. Kami hanya dapat menangis dalam hati. Dan itupun tidak berguna. Orang-orang Jepang yang telah menindasnya sampai ia jadi begitu sekarang mungkin hidup senang di tengah keluargaya. Ya, sejak 1950, mungkin sudah sejak 1945.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Kakau mati dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Bukankah hidup manusia ini tiap hari dicangkul, diendapkan, dan diseret juga seperti gundukan tanah merah itu?
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Sekarang, kepalaku membayangkan kuburan, tempat manusia yang terakhir. Tapi kadang-kadang manusia tak mendapat tempat dalam kandungan bumi. Ya, kadang-kadang. Pelaut, prajurit di zaman perang, sering mereka tak mendapat tempat tinggal terakhir. Dalam kepalaku membayangkan, kalau ayah yang tak mendapatkan tempat itu.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Akhirnya manusia ini mati juga. Mati. Sakit.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
Kadang-kadang manusia ini tak kuasa melawan kenang-kenangannya sendiri. Dan tersenyum aku oleh keinsyafan itu. Ya, kadang-kadang tak sadar manusia terlampau kuat dan menenggelamkan kesadarannya. Aku tersenyum lagi.
~ Pramoedya Ananta Toer
BazillionQuotes.com
