logo

Quotes from Pramoedya Ananta Toer

Secacat itu tapi masih berjuang! Mestinya perjuanganku lebih dari dia. Aku tidak cacat. Lebih, mesti! Lebih!
~ Pramoedya Ananta Toer
Bagaimanapun baik yang telah kalian peroleh dari kehidupan ini, masih ada saja yang kalian rasa kurang. Yang berada dalam kekurangan ingin terbebas dari kekurangan itu, ingin mendapatkan kemakmuran yang melimpah. Yang telah berada dalam kecukupan ingin lebih cukup lagi. Dari perasaan kurang itu, dari keinginan mendapatkan yang lebih baik itu, timbullah impian. Dan impian itu bisa menjadi padat, menjadi cita-cita. Dan cita-cita itu menjadi pola yang menjadi dasar dan petunjuk dari perbuatan.
~ Pramoedya Ananta Toer
Kemudian malam melanjutkan tugasnya: kosong dari segala perasaan
~ Pramoedya Ananta Toer
Kebawelan banyak kali dianggap wanita sebagai ukuran kelihaian.
~ Pramoedya Ananta Toer
Ada kalanya orang tak bisa menahan keberangan.
~ Pramoedya Ananta Toer
Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasar malam
~ Pramoedya Ananta Toer
Kalau ada persatuan semua bisa kita kerjakan, jangankan rumah, gunung dan laut bisa kita pindahkan - Ranta
~ Pramoedya Ananta Toer
Semua manusia bersaudara satu sama lain. Karena itu tiap orang yang membutuhkan pertolongan harus meeroleh pertolongan. Tiap orang keluar dari satu turunan, karena itu satu sama lain adalah saudara.
~ Pramoedya Ananta Toer
Adakah Arok dan semua temannya pernah menghinakan orang? Mengapa kau takut dihinakan? Kau adalah semua yang pernah kau lakukan terhadap kita. Maju!
~ Pramoedya Ananta Toer
pity is the feeling of well-intentioned people who are unable to act...It is those who are able to carry out their good intentions who deserve praise.
~ Pramoedya Ananta Toer
Karena itu, Ann, kau harus kuat. Kalau tidak, orang akan sangat mudah jadi permainan, dan terus dipermainkan oleh orang-orang semacam dia itu.
~ Pramoedya Ananta Toer
Tiap pemuda Indonesia bisa melakukan segala perjuangan dan pekerjaan kalau dia mau - Pak Komandan
~ Pramoedya Ananta Toer
Alam dan manusia telah membikinnya tidak brdaya dalam umur yang baru setengah abad. Sejak meninggalkan kampung halaman dan keluarga ia hanya mengenal penderitaan, tindasan, dan aniaya. Kami hanya dapat menangis dalam hati. Dan itupun tidak berguna. Orang-orang Jepang yang telah menindasnya sampai ia jadi begitu sekarang mungkin hidup senang di tengah keluargaya. Ya, sejak 1950, mungkin sudah sejak 1945.
~ Pramoedya Ananta Toer
Kakau mati dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.
~ Pramoedya Ananta Toer
Revolusi, dia adalah guru. Dia adalah penderitaan. Tetapi dia pun adalah harapan. Jangan khianati revolusi! Kembali ia pandangi dua orang tua itu, yang mungkin beberapa tahun lagi tewas digulung maut. Namun mereka meletakkan harapannya pada revolusi. Betapa mereka mengagumi lembaran uang, perwujudan revolusi.
~ Pramoedya Ananta Toer
Tak akan ada kampung sebersih ini di atas gunung kalau tak ada kerukunan di antara para penghuni.
~ Pramoedya Ananta Toer
Makin jauh dari Mahadewa dia (manusia) makin kejam.
~ Pramoedya Ananta Toer
Siapa yang dapat ramalkan bagaimana jadinya bayi? Jadi nabi atau bajingan, atau jadi sekedar tambahan isi dunia.
~ Pramoedya Ananta Toer
Hanya orang dan binatang bodoh saja yang kena cambuk.
~ Pramoedya Ananta Toer
Anjing-anjing ini baik selama bisa diambil manfaatnya, salah-salah dia menggigit dalam keadaan gila.
~ Pramoedya Ananta Toer
Bukankah hidup manusia ini tiap hari dicangkul, diendapkan, dan diseret juga seperti gundukan tanah merah itu?
~ Pramoedya Ananta Toer
Orang jawa kulitnya licin, seperti ular.
~ Pramoedya Ananta Toer
Masak sama-sama orang segan-menyegani - Pak Komandan
~ Pramoedya Ananta Toer
Aku boleh seorang pelacur! Aku boleh seorang sampah masyarakat! Aku seorang bintang film gagal! Tapi beradat! Tidak. Aku juga punya tanah air. Aku Larasati, bintang ara. Sedang sebutan Miss pun aku tak pernah pakai. Ara! Cukup Ara. Mengapa mesti dengan Miss? Sebutan itu akan membuat aku berkulit putih. Apakah sebutan itu tantangan kaum pria, kalau aku milik siapa saja?
~ Pramoedya Ananta Toer